Perempuan di setiap jaman memiliki kekhasannya masing-masing. Semakin lama peran perempuan semakin mengalami peningkatan yang signifikan. Perempuan saat jaman Siti Khadijah, ataupun jaman R.A Kartini tentunya berbeda dengan jaman sekarang. Dahulu ketika jaman penjajahan Belanda dan Jepang peran perempuan terasa terbelunggu. Hal tersebut dikarenakan kondisi dan budaya saat itu yang tidak memperkenankan perempuan untuk berada di luar rumah. Perempuan haruslah tetap berada di rumah untuk mengurus keluarga dan anak-anak. Ia tidak diperbolehkan beraktivitas di luar rumah. Hingga akhirnya pelopor perempuan Indonesia Raden Ajeng Kartini yang mengusung emansipasi perempuan. Penyerataan peran perempuan di segala sektor kehidupan. Sejak itulah peran perempuan di sektor publik mulai mendapat perhatian. Perempuan tidak diidentikkan dengan pekerjaan rumah tangga. Mereka dapat mengaktualisasikan dirinya dengan kegiatan di luar rumah.
Meskipun perempuan memiliki peranan yang berbeda-beda dalam masyarakat. Akhirnya semuanya itu bermuara pada satu titik yaitu sebagai pendidik bagi generasi unggul dan perempuan pula inilah yang berperan penting membimbing anak-anaknya menjadi generasi rabbani, yaitu generasi yang beriman, mencintai Allah, mengasihi Muslim.
Di zaman Rasulullah kita mengenal Ummu Abdi binti Wadud, ibunda Abdullah ibnu Mas’ud, salah satu sahabat Rasulullah SAW. Di mata Abdullah, sang ibu bukan sekadar orang yang menunggunya pulang ke rumah, tapi juga sebagai teman diskusi sekaligus penasehat. Tak heran jika Abdullah kemudian tumbuh menjadi pemuda cerdas dan berperan sebagai salah satu ujung tombak Islam pada masanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar